burung enggang

BURUNG ENGGANG GADING

Burung Enggang (bahasa Inggris: Hornbill) adalah sejenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk lembu tetapi tanpa lingkaran, kadang kala dengan kask pada bagian atas mandibel. Biasanya paruhnya itu berwarna garang. Nama sainsnya “Buceros” merujuk kepada bentuk paruh, dan berarti “tanduk lembu” dalam bahasa Yunani. (Wikipedia. 2008)
Dalam klasifikasi ilmiah, Enggang (begitu saja kita sebut), merupakan sekelompok burung berparuh tanduk yang masuk dalam keluarga Bucerotidae. Ada sekitar 57 spesies dalam keluarga burung ini yang 10 di antaranya endemik Afrika, sebagian lagi endemik Asia, dan sisanya tersebar di wilayah lain.
Burung Enggang dicirikan oleh ukuran tubuh yang besar, kurang lebih dua kali ayam kampung dan memiliki paruh yang sangat besar menyerupai tanduk sehingga dinamakan hornbill, yang berarti ‘paruh tanduk’. Dari kejauhan, burung ini dapat dikenali melalui suara yang parau lantang. Burung dengan ukuran tubuh yang sangat besar, dengan suara yang keras serta beberapa jenis memiliki warna tubuh yang mencolok, merupakan burung yang sangat jarang dijuampai. Kelompok burung Enggang (Bucerotidae) mempunyai paruh besar dan kokoh tetapi ringan serta bersifat arboreal.

A. Klasifikasi
Klasifikasi Ilmiah Burung Enggang Gading
Kerajaan: Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Aves

Ordo : Coraciiformes

Famili : Bucerotidae

Genus : Buceros

Spesies : Buceros vigil Forster

B. Deskripsi Enggang Gading
Burung enggang gading disebut demikian karena di antara ekornya yang panjang terselip semacam dua tangkai gading dengan panjang sekitar 50 sentimeter. Buceros vigil, demikian nama Latin burung berukuran besar ini. Enggang gading memang termasuk raksasanya burung yang bisa terbang. Dalam identifikasi ukuran, rata-rata panjang tubuhnya antara 60 – 160 cm, ditambah dengan ekor 50 sentimeter Walau besar, enggang punya bobot tubuh yang ringan antara 100 gram – 8 kg. Umumnya burung jantan memiliki ukuran tubuh lebih besar dari burung betina. Jenis kelamin Enggang yang telah dewasa dapat diketahui berdasarkan perbedaan warna balung atau cula, warna sayap, paruh dan mata. burung ini cukup menarik perhatian para kolektor burung unik.
Diantara enggang/burung rangkong, enggang gading adalah yang terbesar ukurannya, kepalanya dan paruhnya besar, tebal dan kokoh dengan tanduk yang menutup bagian dahinya. Orang mancanegara menyebutnya ”helmeted hornbill’ atau ”ivory hornbill” karena memang kekhasannya adalah bagian atas kepalanya yang dilingkupi kulit mirip helm. ”Helm” ini berwarna merah menyala sampai ke bagian leher, menyerupai jengger ayam. Pola warna bulu-bulunya biasanya varian hitam dan coklat tua ( Bulu berwarna coklat, hitam, putih, atau hitam dan putih). Itu pun masih dihias pola lurik atau garis putih, kuning, atau krem pada bulu di area tubuh bawah, sayap, dan ekor. Enggang betina memiliki warna bulu lebih unik lagi, yakni biru sampai biru pucat.
Paruh berwarna merah atau kuning, sangat besar dan melengkung dan sebagian besar burung ini mempunyai cula. Kulit dan bulu di sekitar tenggorokan berwarna terang. Sayap kuat, ekor panjang, kaki pendek, jari-jari kaki besar dan S indaktil (Departemen Kehutanan, 1993).
Secara morfologi, burung Enggang Gading khas Kalbar jauh lebih cantik dan indah ketimbang Enggang di region lain bumi Kalimantan. Ekor Enggang Gading panjang dan berwarna hitam-putih. Cula atau tanduk di kepala Enggang Gading juga lebih kecil sehingga tidak “besar pasak dari pada tiang”. Artinya proporsional. (Sinarharapan. 2002)

C. Makanan, Prilaku dan suara

C.1 Makanan
Enggang gading bukanlah burung “vegetarian” (herbivora). Ia suka menyantap berbagai menu. Dalam daftar makanan hariannya terdiri dari aneka buah ( terutama buah beringin/ara dan palem ), serangga, reptil dan burung kecil bahkan tupai.
Walau bukan pemburu jempolan, Enggang cukup mahir mengejar mangsanya. Buah memang favorit, namun daging ular, kadal, bahkan hewan pengerat akan dilahap . Ada satu yang unik dalam “pertempuran” Enggang gading dengan ular. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa saat memangsa ular berbisa, Enggang cukup hati-hati. Kemampuan memangsa ini dikembangkannya menjadi teknik makan yang unik. Saat mematuk ular berbisa, ia menempatkan kepala ular di dekat ujug paruhnya. Ini untuk menjauhkan patukan ular ke kepala atau bagian tubuh lainnya. Setelah menempatkan mangsa sedemikian rupa, ia akan mulai melakukan putaran paruh agar bagian atas ular berada di bawah (terbalik). Lantas dengan perhitungan dan kehati-hatian, ia mematuki kepala dan tubuh ular sampai hancur dan daging segar pun segera dilahap.

C.2 Perilaku Unik
Enggang Gading suka bersarang di lubang-lubang pohon besar. Namun berbeda dengan kebanyakan burung lainnya, dalam masa mengerami, betina akan mengurung diri selama masa mengerami dan jantan akan setia melayani istrinya, karena enggang dikenal sebagai burung yang setia pada pasangan (monogami).
Saat musim bertelur, betina akan bertelur di lubang-lubang pohon sebagai sarang. Biasanya ia akan menempatkan 1 – 5 telur dalam satu kali musim bertelur. Setelah semua telur ditempatkan sedemikian rupa, maka betina akan menutup lubang pohon dengan lumpur dan meterial lain. Ia kemudian mengurung diri di lubang gelap yang sempit sambil mengerami telurnya. Jantan akan membantu menutup lubang dengan membiarkan sedikit celah sempit. Celah ini digunakan jantan untuk menyuplai makanan bagi betinanya.
Pada beberapa spesiesnya, “beton” penutup lubang akan dibiarkan tertutup selama 100 hari (± 3 bulan). Setelah masa mengerami selesai dan anakan enggang telah lahir, betina bersama bayi-bayinya akan memecah tembok pelindung itu dan terbang keluar.
Karena sistem perlindungan seperti ini, sarang-sarang Enggang cenderung terlindungi dari kemungkinan serangan predator dan hewan “pemburu” telur.

C.3 Suara
Suara enggang gading cukup keras/lantang dan bergema jauh saat musim kawin tiba. Mereka juga senang berkomunikasi antar satu kelompok dengan kelompok lain dari habitat yang berbeda dengan mengeluarkan suara melengking tinggi. A series of identical, loud, hollow took notes, gaining in speed before drawing to an amazing climax of maniacal laughter, tee poop notes. (Forestry, Sarawak, Goverment. 2008)

D. Habitat
Burung enggang gading menyukai habitat hutan yang lebat dengan banyak pohon buah-buahan. Burung enggang gading bertengger di pohon yang tinggi ( upper canopy) dengan ketinggian ±1500 mdl. Burung enggang juga dapat hidup rukun dengan primata di sebuah pohon yang berbuah. (Forestry, Sarawak, Goverment. 2008)

E. Persebaran
Burung Enggang Gading persebarannya di hutan hujan tropis di Kalimantan dan Sumatra serta Malaya Peninsula. (Forestry, Sarawak, Goverment. 2008)

F. Peranan
Tentunya akan menjadi pertanyaan bagi kita, apa peranan burung ini bagi ekosistem? Menurut (M. Yusuf. 2008) dalam (Departemen Kehutanan, 1993) hasil penelitian menunjukkan satwa ini merupakan pemakan buah dan sangat menggemari buah Ara (Ficus sp.) dimana buah ini merupakan pohon kunci bagi kelestarian satwa liar. Kelompok burung Enggang (Bucerotidae) yang tergolong satwa pemakan buah, berperan dalam penyebaran biji di hutan. Biji-biji tersebar melalui kotorannya karena sistem pencernaan Enggang tidak merusak biji buah. Selain itu, pergerakan Enggang keluar dari pohon penghasil buah membantu menyebarkan biji dan meregenerasi hutan secara alamiah.

G. Ancaman dan Status Konservasi
Enggang Gading memang burung yang istimewa. Tercatat sebagai keturunan burung yang hidup sejak ribuan tahun lalu. Sejak lama Enggang memang sudah menjadi salah satu burung yang “dipuja” dibanyak kebudayaan kuno, termasuk suku Dayak di Kalimantan. Enggang pada beberapa kebudayaan kuno menjadi bagian ritual religi yang melambangkan kebebasan, kesucian dan loyalitas. Kini ia termasuk dalam daftar hewan yang dilindungi karena terancam punah. (Tigerbear. 2007)

Pada masyarakat Dayak Kenyah-Kayan, burung ini biasa diburu untuk diambil paruhnya sebagai hiasan atau cincin kawin bagi pasangan yang menikah. Gading yang tersembul di ekor juga menjadi sasaran. Tidak ketinggalan juga dagingnya yang konon enak dimakan serta bulunya yang indah untuk ornamen. Tak heran populasi burung ini kian hari kian menyusut.(Sinarharapan.2002)

Seksi Sub balai Konservasi Sahat, S. mengatakan bahwa Enggang Gading (Buceros vigil) merupakan salah satu sepesias burung endemik yang habitatnya di Kalimantan dan Sumatera. Keberadaan hewan lindung ini sudah amat jarang sehingga dilindungi, karena perkembang biakannya sangat lambat. Selain itu keindahan burung ini juga dijadikan lambang ritual bagi berbagai upacara adat di Kalbar.

Sesuai dengan keputusan Mentri Pertanian dan Kehutanan burung mascot Kalbar ini menjadi satwa lindung. Sehingga tidak seorang pun boleh membunuh, menangkap atau memelihara burung yang tergolong satwa lindung ini, dengan ancaman hukuman kurungan dan denda ratusan juga rupiah bagi yang melanggar. Untuk menjaga kelestariannya pemerintah Kalbar menjadikan burung cantik ini menjadi mascot Kalbar, yang melambangkan citra daerah, yang dikagumi dan menjadi lambang kebanggan daerah, sehingga diharapkan partisipasi aktip dari masyarakat untuk turut melestarikannya.
Selain pengawasan peredaran dan konservasi, melestarikan hutan dan lingkungan juga merupakan upaya konservasi. Karena burung yang sangat setia dengan pasangannya ini menyenangi habitat yang banyak hutan lebat dan banyak pohon buah buahan. Burung yang di Indonesia hanya ada di Kalimantan, dan Sumatera ini kian lama kian menyusut sebab banyak diburu oleh kolektor hewan langka.
Pelestarian Enggang Gading menuntut pelestarian hutan tropika, di Kalimantan Barat tidak sulit meluangkan habitat yang diperlukan burung lambang jati diri propinsi. (Diambil dari buku Jenis-Jenis Fauna Penjatidiri Provinsi).
Burung Enggang Gading termasuk hewan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 226 tahun 1931, UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang dipertegas dengan SK Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991 tentang Inventarisasi Satwa yang dilindungi UU dan No. 882/Kpts-II/1992 tentang Penetapan Tambahan Beberapa Jenis Satwa yang dilindungi UU. Departemen kehutanan mengungkapkan burung Enggang Gading tergolong spesies yang mendekati punah dan atau langka. Daftar status burung Enggang yang dilindungi dapat dilihat pada table. 1.

Tabel 1. Daftar Status Burung Enggang yang dilindungi
No Nama Ilmiah Nama Inggris Nama Indonesia Persebaran Status
1 Buceros vigil Hemeted Hornbill Enggang Gading (Enggang Raja) S,K I
2 Anthracoceros albirostris Asianpiet Hornbill Kengkareng Perut Putih J, S II
3 Rhyticeros cassidix Knobbed Hornbill Julang Sulawesi Sulawesi II
4 Rhyticeros undulatus Wreathed Hornbill Julang Jambul Coklat J, K, S II
5 Rhyticeros corrugatus Wrinkled Hornbill Julang Jambul Hitam S,K II
6 Rhyticeros everitii Sumba Hornbill Julang Sumba NT (Sumba) II
7 Rhyticeros plicatus Blythis Hornbill Julang Irian Maluku, Irian II
8 Annorhinus galeritus Bush-created Hornbill Kengkareng Ekor Abu S, K II
9 Penelopides exharalus Sulawesi Hornbill Julang Kecil Sulawesi Sulawesi II
10 Berericornis comatus White-croowned Hornbill Enggang Jambul Putih S, K II
11 Rhyticeros subruficollis Plain pouched Hornbill Enggang Sumatera S I
12 Anthrococeros malayanus Black Hornbill Kengkareng Hitam S, K II
13 Buceros rhinoceros Rhinoceros Hornbill Enggang Badak J, S, K II
14 Buceros bicornis Great Hornbill Enggang Papan S I
Keterangan
I : Spesies mendekati kepunahan, pemanfaatan spesies perlu perlakuan internasional yang ketat
II:Spesies langka, pemanfaatan spesies perlu pengawasan internasional
S (Sumatera), J (Jawa), K (Kalimantan). (Departemen Kehutanan, 1993).
H. Nilai Etika dan Estetika

Dalam budaya Kalimantan, burung enggang (tingan) merupakan simbol “Alam Atas” yaitu alam kedewataan yang bersifat “maskulin”. Di Borneo, burung enggang sakti dipakai sebagai lambang daerah atau simbol organisasi seperti di Lambang Negeri Sarawak, Kalimantan Tengah, Simbol Universitas Lambung Mangkurat dan sebagainya. Burung Enggang diwujudkan dalam bentuk ukiran pada budaya Dayak, sedangkan dalam budaya Banjar, burung enggang diukir dalam bentuk tersamar (didistilir) karena budaya Banjar tumbuh di bawah pengaruh agama Islam yang melarang adanya ukiran makhluk bernyawa.

S
Burung sudah lazim digunakan sebagai simbol suatu lembaga, perusahaan atau bahkan negara. Indonesia negara yang kita cintai ini, menggunakan simbol burung Garuda. Tak urung negeri super power, negeri adi daya Amerika Serikat juga menggunakan simbol burung dengan semboyan E Pluribus Unum—sebuah semboyan yang negara kita menonjolkan Bhinneka Tunggal Ika. Esensinya, atau benang merahnya pada keberagaman atau pluralisme.
Burung juga menyiratkan kehidupan nyata. Ia makhluk hidup yang bernapas layaknya manusia. Dia juga bergerak, tumbuh dan berkembang sebagaimana manusia. Sifat burung paling utama tentu saja terbang. Ini satu makna yang penting yaitu harus terbang untuk dapat menjangkau ketinggian dan menatap seluruh alam semesta.
Lebih tua dari penetapan Enggang Gading sebagai maskot Kalbar, di kalangan masyarakat etnik Dayak eksistensi Enggang Gading lebih merasuk ke relung waktu dan jiwa lebih dalam lagi. Mereka sudah menganggap Enggang Gading sebagai sumber spirit. Oleh karena itu dalam sudut mitologi Enggang Gading ini mereka ibaratkan dewa, atau sumber kepercayaan.. Nilai universal paling menonjol dari Enggang Gading adalah cinta kasih, rasa sayang, dan kesetiaan.
Secara morfologi, Ekor Enggang Gading panjang dan berwarna hitam-putih. Cula atau tanduk di kepala Enggang. Secara biologi Enggang Gading punya daya survival yang tinggi. Ia mampu bertahan di hutan belantara yang liar dan buas. Ia bersarang di pohon-pohon yang tinggi. Dalam hal kesetiaan, Enggang Gading paling utama. Sebagai contoh harmoni adalah saat induk betina mengeramkan telurnya. Induk jantan menjaga dengan setia selama tiga bulan lamanya. Ini tentu kesetiaan dan kebersamaan yang patut jadi teladan. Melihat kekayaan makna biologis, morfologis hingga filosofis dan religiusnya Enggang Gading wajar banyak dipilih sebagai symbol atau maskon daerah dan instansi bahkan enggang gading juga dijadikan inspirasi bagi seniman untuk membuat puisi.

Puisi yang terinspirasi dari Burung Enggang.
Aku Enggang Anak Gading Dari Kalimantan

Aku Enggang anak Gading dari Kalimantan
berjalan dijalan kotor, mempertahankan nafas kehidupan
tercaci maki siang dan malam
dalam bilik-bilik penyesalan

Aku Enggang anak Gading dari Kalimantan
bangun di malam tak berujung
melihat banyak ibu berteriak memanggil anak
melihat banyak bapak pulang dengan keringat

Aku Enggang anak Gading dari Kalimantan
mencium bau busuk nafas bangsawan
melihat tangis pengemis jalanan
mendengar desah perempuan jalang

Aku Enggang anak Gading dari Kalimantan
berjuang mengangkat kepala
meludah dan mencibir
menantang langit

Aku Enggang anak Gading dari Kalimantan
tertawa dalam malam
menangis dalam malam
termenung dalam malam

Aku Enggang anak Gading dari Kalimantan
tidak banyak belajar dari siang.
(Bun bon.2008)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s